SI LAO DAN IKAN GABUS
Konon dahulu kala hiduplah dua orang suami isteri petani dengan seorang anaknya yang bernama Lao, di sebuah desa agak jauh terpencil dari desa-desa yang lainnya.
Kehidupan mereka bertiga cukup bahagia, aman dan tenang, sekalipun segala-galanya dengan serba sederhana.
Bila hari telah malam dan mereka semua telah selesai dengan pekerjaannya, duduklah mereka omong-omong sebentar untuk beristirahat sambil menikmati hidangan kue dan minuman-minuman sekadar menghilangkan dahaga setelah menghilangkan laparnya dengan makanan malam.
Pada waktu itulah si ayah sering memberikan nasehat-nasehat dan petujuk-petunjuk kepada anaknya untuk pekerjaannya di hari-hari yang akan datang.
Ternaknya kini telah bertambah banyak jumlahnya, oleh sebab itu si Lao harus betul-betul hati-hati memeliharanya. Hendaknya selalu mencarikan tanah lapang yang luas, yang banyak rumputnya untuk kawanan ternak tersebut.
Suatu ketika Lao terpaksa harus menggembalakan ternaknya agak jauh dari rumah, karena rumput yang dekat-dekat dengan kampong halamannya tidak mencukupi lagi.
Untuk keperluan itu, ibunya selalu harus menyediakan makanan bagi anaknya, pagi-pagi benar sebelum anaknya berangkat.
Separuh nasi untuk dimakan bersama di rumah dan separuh dibawa anaknya sebagai bekal karena sehari-hari itu ia tidak kembali makan siang di rumahnya. Baru pada sore hari, menjelang petang barulah si Lao kembali dengan ternaknya.
Pada hari pertama ketika si Lao berangkat itu ia dapat sampai pada suatu padang yang subur rumputnya. Di sanalah ia singgah di bawah pohon untuk berteduh, sedang ternaknya dilepaskan untuk mencari makan.
Kebetulan di dekat pohon tempat si Lao berteduh itu, terdapat pula sebuah kolam yang di dalamnya banyak ikan, dan di antara ikan-ikan itu terdapat pula seekor ikan Gabus yang besar dan cantik rupanya.
Ketika hari menjelang naik, ketika perut si Lao mulai merasa lapar, dikeluarkannya bekal yang dibawa itu untuk dimakan.
Tetapi baru saja ia akan mulai menyuap nasinya, ke luarlah ikan Gabus yang besar itu dari dalam liangnya dan berenang-renang di dalam air seolah-olah sengaja menampakkan diri pada si Lao yang akan makan itu.
Timbullah kasihan si Lao melihat ikan Gabus itu, kemudian nasinya yang akan disuap tadi itu tidak jadi dimakan, tetapi diberikan kepada ikan Gabus yang di dalam air itu.
Oleh karena senangnya hati si Lao melihat iakan Gabus itu bermain-main sambil memekan nasinya, maka dengan tidak disadari dan terasa oleh si Lao, nasi yang dibawanya itu telah habis diberikan kepada ikan Gabus, sehingga ia sendiri lapar sampai sore karena tidak makan apa-apa sedikit jua pun.
Demikianlah keadaan si Lao setiap hari, semua makanan yang dibawa dari rumah tidak ada sedikit jua pun yang dimakan olehnya, semuanya diberikan kepada ikan Gabus yang di dalam kolam itu, sehingga ia sendiri kurus setelah beberapa hari berlaku demikian itu.
Pada suatu ketika ayahnya merasa heran melihat anaknya yang semakin hari semakin tambah kurus itu. Ingin diketahuinya sebab-sebab sampai anaknya mengalami kurus yang demikian itu.
Keesokan harinya, ketiak anaknya berangkat untuk mengembalakan ternak, berangkat pula ia dari belakang mengikuti anaknya, tetapi dengan sangat bersembunyi agar tidak diketahui oleh anaknya itu.
Setelah samapi pada tempat di mana anaknya mengembalakan ternaknya, ia bersembunyi di balik sebuah pohon sambil memperhatikan apa-apa yang akan diperbuat anaknya dari jauh itu.
Betapa terkejut hatinya, ketika pada tengah-tengah hari, anaknya mengambil nasi yang dibawanya dari rumah bukan untuk dimakan, tetapi diberikan kepada ikan Gabus yang berenang di kolam.
Kini mengertilah ia apa sebabnya pada waktu akhir-akhir ini anaknya semakin hari semakin kurus.
Sekembli di rumah, diceritakannya kepada istereinya bahwa si Lao setiap kali pergi mengembalakan ternaknya, ia tidak makan sapai sore karena nasi yang dibawanya sebagai bekal semuanya diberikan kepada seekor ikan Gabus yang berada di dalam kolam, yang terletak di bawah sebuah pohon di mana si Lao berteduh sambil mengembalakan ternaknya.
Alangkah sakit hati ibu si Lao mendengar cerita itu.
Disuruhnya agar ayah si Lao pergi membunuh ikan bagus itu, tetapi harus pula dijaga supaya si Lao jangan mengetahui bahwa ikan Gabusnya itu akan dibunuh.
Keesokan hariny aayah si Lao memberitahukan agar si Lao pergi menggembalakan ternaknya di muara, karena di sana rumputnya subur.
Sebenarnya si Lao juga merasa bahwa mungkin ayahnya bermaksud membunuh ikan Gabusnya, tetapi si Lao tidak juga membantah ats suruhan ayahnya itu.
Ketika si Lao pergi, pergi pulalah ayahnya ke kolam dan sesampai di sana, ia berseru memanggil-manggil Gabus itu sebagaimana halnya kalau si Lao memanggil. Tidak lama kemudian ke luarlah ikan Gabus itu dari dalam liangnya, dan seketika itu juga ayah si Lao mengambil parannya dan membunuh ikan Gabus tersebut.
Merah seluruh air dalam kolam itu karena darah ikan Gabus, semua burung-burung beterbangan karena ketakutan, ikan Gabus kemudian diambil oleh ayah si Lao dan dibawa pulang kerumah untuk dimasak.
Keesokan harinya, ketika si Lao akan berangkat kembali menggembalakan ternaknya ia diberikan bekal nasi lagi sebagaimana biasa oleh ibunya dengan ikan Gabus yang ditangkap ayahnya kemarin itu.
Mukanya pucat, dan kecurigaannya bertambah, karena baru kali itulah ia diberi bekal dengan ikan Gabus sebagai lauknya. Tetapi si Lao tidak menanyakan juga diarimana ibunya mengambil ikan Gabus itu.
Si Lao terus saja pergi dengan ternaknya, dan setelah sampai di tepi kolam, ikan gabsunya dipanggil, tetapi kini tidak Nampak ke luar lagi. Kini ia yakin bahwa ikan yang digoreng ibunya di rumah itu tiada lain daripada ikan Gabus kesayangannya yang setiap hari diberinya makanan itu.
Si Lao sangat bersedih, dan atas kesedihannya itu si Lao memanggil-manggil lagi, dan seketika itu juga sebuah batu besar yang ada di depannya terbelah di mana si Lao dapat masuk ke dalamnya.
Ayah si Lao yang mengikuti anaknya dari belakang untuk melihat peristiwa-peristiwa yang terjadi atas diri anaknya, setelah melihat anaknya masuk ke dalam belahan batu, kemudian belahan batu tertutup kembali, segera pula lari kedepan mendekati batu tersebut dan memanggil-manggil agar batu membuka belahanya kembali, agar anaknya dapat dipanggil lagi ke luar.
Tetapi belahan itu tidak akan terbuka lagi, mati hilang lenyaplah si Lao ke dalam batu untuk selama-lamanya.
0 Response to "SI LAO DAN IKAN GABUS"
Post a Comment