google.com, pub-4323562692114859, DIRECT, f08c47fec0942fa0 Si Kancil dengan Si Kera - Cerita Rakyat

Si Kancil dengan Si Kera

 

Kancil dengan kera

 


Pada suatu hari terdapatlah seekor kancil bersahabat degan seekor kera. Persahabatan mereka ini sangat eratnya. Ke mana pun juga mereka pergi, senantiasa bersama-sama melakukan sesuatu. Pada suatu hari berkatalah si kera kepada kancil, “kurasa hidup kita ini selalu sulit. Tiap-tiap kali kita makan senantiasa dikejar-kejar manusia akan dibunuh.”

“tentu saja” jawab si kancil, “sebab selamanya kita makan dengan mencuri tanaman manusia”.

“lalu bagaimana usaha kita selanjutnya, agar kita dapat hidup dengan tentram, tanpa kekawatiran akan dibunuh manusia?” tanya kera.

“kita harus bertani,” jawab si kancil “kita harus menaman sendiri yang kita senangi. Kalau kita memetik hasil tanaman kita sendiri, tentu saja tidak akan diancam, tidak dikejar-kejar dan akan dibunuh oleh manusia.:

“baiklah” sambung kera. “marilah kit ausahakan bercocok tanam. Lalu apakah sebaiknya yang kita tanam?”

“untuk permulaan, sebaiknya kita menanam pohon pisang saja” jawab kancil. “Pohon pisang itu mudah ditanam dan tidak sukar pemeliharaannya.”

“baik, mari kita mulai,” kata si kera.

“tetapi aku punya satu usul. Sebaiknya kita menanam bersama-sama, dan hasilnya kita makan bersama-sama sesudah kita bagi sama rata.”

“Tentu saja,” kata kancil.

Mulailah kancil dan kera itu menanam pohon pisang. Kancil menanam sebatang, dan kera juga menanam sebatang.

Tanaman si kera tidak bisa subur dan berbuah, karena tiap-tiap kali tumbuh pucuk daunnya yang muda, kera itu selalumemanjatnya dan memakannya. Pada akhirnya pohon pisang tanaman si kera itu pun matilah. Sebaliknya tanaman si kancil tumbuh dengan suburnya sehingga pada akhirnya berbuah. Stelah buah-buah pisang tanaman si kancil itu masak-masak, si kancil lalu membuat bakul untuk tempat pisang-pisangnya waktu memetik nanti. Karena si kancil tidak dapat memanjat, maka ia minta tolong agar si kera yang memetiknya, dan hasilnya nanti dibagi dua sama rata.

Kera menyanggupinya, lalu menerima bakul yang diserahkan oleh si kancil kepadanya untuk tempat pisang-pisang itu.

Maka memanjatlah si kera dengan membawa bakul itu. Sesampai diatas, melihat buah-buah pisang yang masak-masak itu, tumbuhlah kelicikan dalam hatinya. Satu persatu ia memetiki buah-buah pisang yang masak itu, lalu dimakan, sedangkan kulitnya dimasukkannya ke dalam bakul itu. Setelah habis buah-buah pisang itu dimakannya, lalu turunlah ia seraya menyerahkan bakul berisi kulit pisang itu, katanya, “inilah bagianmu. Sudah kubagi dua sama rata tadi sejak ada di atas. Bagianku sudak kemakan dia tas tadi. Tinggallah ini bagianmu semua.”

Si kancil menerima bakul itu. Dan setelah tahu bahwa yang diisikan dalam bakul itu bukannya pisang melainkan hanya kulitnya saja, sangat marahlah ia. Tapi tak bisa berbuat apa-apa kecuali hanya menahan marahnya itu. Ia menyesal telah bersahabat dengan si kera yang licik itu. Akan melepaskan dendamnya itu, tak bisalah ia, sebab si kera cepat-cepat memanjat ke atas pohon sambil mengejeknya.

Beberapa minggu kemudian, sebatang lagi pohon pisang pada rumpun tanaman si kancil itu berbuah. Melihat itu sangat senanglah hati si kancil, pikirnya.

“dahulu aku telah ditipiu oleh si kera dan tidak mendapat bagian dari panenan pisangku. Sekarang pisangku telah berbuah lagi. Inilah penukar kerugianku dahulu itu. Sekarang tak mungkin aku tertipu lagi oleh si kera keparat itu. “sejak itu si kancil tetap mengawasi buah pisang itu dan menunggunya siang malam, kuwatir kalau-kalau akan dicuri oleh si kera.

Pada suatu hari, yaitu pada waktu pisang-pisang si kancil itu masak, datanglah si kera.

“apa maksudmu datang kesini?” tanya si kancil dengan geramnya.

“kulihat pisangmu masak,” jawab kera sebentar-sebentar memandang buah pisang itu dan menelan ludah.

“apa pedulimu pisangku masak?”

Barangkali kau masih ingat janji kita dahulu. Panenan kita dibagi dua sama rata. Jadi datangku ke sini akan mengambil bagianku.

Tidak! Kau tidak akan kuberi bagian, bentak si kancil. Kau dulu menipuku. Buah pisang kau makan semua dan aku hanya kauberi kulitnya! Aku tidak akan memberimu bagian sedikit pun.

Kejadian yang dulu masih juga kau ingat-ingat juga, kata si kera dengan kecewa.

Tentu saja! Seumur hidup aku tidak akan melupakannya.

Kalau aku sekarang minta maaf?

Tidak, aku tidak akan memberimu maaf!

Jadi kau tdak akan memberiku sedikitpun?

Tanya si kera dengan mengiba-iba.

Tidak! Bagaimana pun juga aku tidak akan memberimu bagian, jawab si kancil dengan suara tegas.

Sudahlah kalau begitu, aku akan segera pergi, kata si kera putus asa. Seketika itu pula timbullah akal si kera, lalu katanya sambil berjalan akan meninggalkan tempat itu.

Selama kita tidak berjumpa ini barangkali kau telah belajar memanjat dan sekarang telah pandai. Nah, sudah kalau demikian. Panjatlah pisangmu itu. Aku tidak akan mengganggumu. Selamat tinggal, dan selamat menikmati panenanmu itu.

Hai, tunggu dulu, seru si kancil. Ia ingat bahwa tidak bisa memanjat, jadi tidak akan dapat memetik buah pisang itu kalau tidak ditolong oleh si kera.

Apa? Apa perlunya kau menahanku? Kau mengatakan bahwa tidak akan memberiku bagian. Apa maksudmu menahanku? Apakah aku kau suruh melihat kau memperlihatkan kepandaianmu memanjat, lalu melihat kau makan semua buah pisangmu itu? Kata si kera.

Jangan begitu, aku ingin minta tolong kepadamu memanjat dan memetikkan buah pisang itu. Aku tidak bisa memanjat.

Ah, tidak, aku tidak mau. Kau tidak akan memberiku. Nanti kau kuberi bagian, kata si kancil lagi. Sebenarnya ia kawatir dan ragu-ragu menyuruh si kera memanjatkan pisangnya itu, tetapi karean ia sendiri tidak bisa memanjat, apa boleh buat. Terpaksalah ia menyuruh si kera memanjatkannya, lalu katanya lagi, tolonglah aku, panjatkan pisang itu. Nanti kau kuberi seperduanya. Sambil berkata begitu, si kancil menyerahkan bakul kepada si kera. Kera menerima bakul itu, lalu mulailah memanjat pohon pisang itu.

Sesampainya di atas, setelah melihat buah-buah pisang yang masak itu, timbul lagilah pikiran buruk pada hati si kera.

Mulailah ia memetik buah pisang itu satu demi satu, dikupas, lalu dimakannya.

Melihat itu marahlah sikancil, kalau dibiarkan begitu, tentulah ia tidak akan kebagian makan buah pisang. Lalu diperolehnya akal akan menggagalkan kelicikan si kera. Mulailah si kancil mengejek dan menghina si kera.

Hai, kera. Puaskanlah hatimu makan buah-buah pisang itu. Sejak dahulu aku telah tahu bahwa kau itu rakus, kau itu tamak, laba. Kusuruh kau memanjat pisang itu karena aku tahu akan kerakusanmu itu. Kau licik, hatimu busuk, tak boleh tidak aku tentu tidak akan kebagian. Kera licik. Kera busuk!

Mendengar ejekan dan hinaan demikian itu, sangat marahlah si kera. Mula-mula ia melempari si kancil dengan kulit-kulit pisang. Tetapi si kancil senantiasa mengelakkan lemparan-lemparan itu sambil tetap mengejek dan menghina si kera. Karena itu si kera makin lama makin marah, tak henti-hentinya melempari si kancil. Lama kelamaan, karena tergesa-gesanya, bukan kulit yang dilemparkannya kepada si kancil, melainkan buah-buah pisang. Si kancil memunguti buah-buah pisang itu satu demi satu, lalu memakannya, sambil tetap mengelakkan lemparan-lemparan si kera dan terus saja mengejek dan menghina.

Pada akhirnya habislah buah-buah pisang itu dipetiki oleh si kera dan dilemparkan kepada si kancil. Dengan jalan demikian itu si kancil dapat membalas tipuan si kera. Kera hanya makan pisang sedikit. Sebagian besar dilemparkan kepada si kancil.

Setelah buah pisang itu habis, tahulah si kera, bahwa ia ditipu. Karena malu, lalu meninggalkan si kancil. Sejak itu si kera dan si kancil tidak bersahabat lagi.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Si Kancil dengan Si Kera"

Post a Comment