google.com, pub-4323562692114859, DIRECT, f08c47fec0942fa0 Si kancil dan Buaya - Cerita Rakyat

Si kancil dan Buaya

 



 

Setelah membunuh harimau yang terjepit pada lubang pohon dengan jalan menusukinya dengan tongkat, ia lalu berjalan kian ke mari tanpa tujuan tertentu. Sekarang ia tak punya rumah lagi. Rumahnya, yaitu lubang pohon itu, tak bisa lagi dipergunakannya, karena telah terisi oleh bangkai harimau.

Kebetulan pada waktu itu turunlah hujan lebat. Si kancil makin bingung mencari tempat berteduh. Ia merasa berdosa karena telah membunuh sesama makluk. Ia sangat menyesal, dan merasa, bahwa karena dosanya itulah maka hidupnya sekarang menderita, mengalami kesukaran. Ia kesukaran mencari tempat tinggal. Lagi pula kini ia tidak aman pergi kemana-mana, sebab merasa mempunyai musuh, yaitu anak-anak harimau yang telah ia bunuh itu. Ke mana pun juga ia merasa hidupnya terancam.

Beberapa saat lamanya, sampailah ia di tepi sebuah sungai. Karena sangat bingung, tak tentu lagilah pikirannya. Kaki depannya dicelupkan ke dalam air sungai itu, sedang kaki belakangnya masih tetap di darat. Sambil melamun ia bermain-main air sungai itu.

Tiba-tiba terkejutlah kancil itu. Kaki depannya digigit olah seokor buaya. Akan menarik dan melepaskannya dari gigitan itu, tak mungkinlah ia, maka sementara lamanya ia diam tak bergerak-gerak sambil mencari akal akan lepas dari bahaya maut itu.

“mampus kau sekarang hai kancil. Aku sudah lapar. Sudah beberapa hari aku tidak makan. Kebetulan kau datang. Maka sekarang juga kau akan kumakan,” kata buaya yang menggigit kaki depan si kancil.

Apa katamu hai buaya?”tanya sikancil dengan tenang. “kau akan memakan aku?”

“Ya,” jawab buaya itu. Telah lamaaku tidak makan, dan kebetulan sekalu kau mengantarkan daging ke sini. “ si Kancil sebetulnya merasa sakit, tetapi ditahankannya. Ia pura-pura tidak merasa sakit sedikitpun, untuk melaksanakan siasatnya agar dapat lepas dari bahaya maut itu.

“kalau kau akan memakanku, mengapa kau tidak lekas-lekas menerkam diriku?” tanya si kancil.

“kan aku telah menangkap kaki depanmu?”

“kaki depan? Kau telah menagkap kakiku?” si kancil tertawa mengejek. “alangkah bodohnya kau ini hai buaya. Tidak bisa membedakan antara akar pohon dengan kakiku. Kau  kira yang kau gigit itu kakiku? Baiklah kalau begitu. Kebetulan bagiku. Makanlah sesukamu yang kau gigit itu. Aku akan segera pergi.”

Si buaya mengira bahwa kata-kata kancil itu benar belaka. Ia mengira kalau yang digigit itu benar-benar akar pohon seperti kata si kancil. Gigitannya dilepaskan lalu berusaha akan menerkam leher kancil itu. Seketika itu pula, setelah si kancil merasa bahwa kakinya lepas dari gigitan buaya itu, cepat-cepat ia meloncat ke daratan. Setelah lepas dari bahaya mau itu, si kancil lalu lari sekencang-kencangnya, tanpa menoleh-noleh lagi.

Buaya mengerti kalau ditipu oleh si kancil. Marahlah ia lalu mengancam akan membunuh si kancil kapan saja bertemu. Ia lalu mengatakan kepada teman-temannya tentang tipuan kancil itu. Buaya-buaya itu lalu bersepakat, siapa yang melihat si kancil harus selekas mungkin memberi tahukannya kepada teman-temannya, agar dengan serentak mereka dapat mengeroyok si kancil. Bagaimanapun juga kelicikan si kancil, tentu akan dapat dikalahkan, kalau dikeroyok bersama-sama.

Pada suatu hari si kancil merasa sangat mengantuk. Ketika itu musim kemarau dan panas sangat teriknya hingga sungai-sungai menjadi kering. Si kancil berjalan kian ke mari akan mencari tempat yang enak untuk tidur. Di tengah-tengah sebuah sungai, terdapat sebuah batu yang sangat besar dan datar. Barangkali batu itu dapat dipergunakan untuk tempat tidur dengan enak. Karena sungai itu kering, maka si kancil dapat sampai ke batu itu dengan mudahnya, tidak usah menyeberang. Sesampai di atas batu itu, tidurlah ia dengan sangat nyenyaknya. Pada waktu itu di tempat-tempat pada hulu sungai itu turunlah hujan lebat, hingga terjadilah banjir yang besar. Sungai yang tadi kering itu kini menjadi meluap-luap airnya, seperti sebuah pulau kecil yang terpencil di tengah-tengah sungai yang sangat besar itu.

Dalam air bah yang sangat besar itu berkeliaranlah buaya-buaya di sungai itu. Adalah seekor buaya melihat si kancil tidur di atas batu di tengah sungai itu, lalu memberitahukannya kepada teman-temannya tak lama antaranya, berkumpullah sudah berpuluh-puluh buaya mengerumuni batu itu. Sikancil tidur sangat nyenyak, hingga tidak mengetahui datangnya banjirbesar di sungai itu.

Ketika ia terjaga dari tidurnya, sangat terkejutlah melihat di sekitarnya tergenang air, jadi ia tidak akan bisa kedaratan meninggalkan batu di tengah sungai itu, lebih-lebih lagi setelah melihat mulut-mulut buaya yang terganga di sekitarnya.

“mampuslah aku sekarang” pikir si kancil. “inilah hasilnya dahulu aku menipu buaya itu. Tak mungkinlah aku sekarang lepas dari bahaya maut ini. Dua bahaya besar kini mengancam hidupku, yaitu banjir dan buaya. Kalaupun buaya-buaya itu tidak menerkamku, akan mati jugalah aku karena tergenang banjir. Bagaimana akalnya akan lepas dari bahaya maut ini?” sikancil hanya diam saja, tidak berani bergerak-gerak.

“hai kancil,” seru seekor buaya yang dahulu telah ditipu oleh si kancil. “sekarang tak mungkin lagi kau akan lepas. Tak mungkin lagi kau akan melarikan diri.”

“aku memang tidak berniat akan melarikan diri,” jawab si kancil.

“aku telah merasa bersalah karena dahulu aku menipu kau. Perasaan bersalah itu tiap-tiap hari senantiasa menggoda diriku. Hidupku tidak bisa tenang lagi karena selalu diganggu perasaan itu. Itulah sebabnya, maka sekarang aku datang ke sini. Maksudku akan menyerahkan diri kepadamu barangkali memang sudah takdirku akan mati dimakan oleh buaya. Jadi meskipun telah dapat lepas dari terkamanmu, tidak boleh tidak nanti juga akan jatuh lagi ke mulut teman-temanmu. Apakah gunanya aku menunda-nunda kematian, kalau pada akhirnya toh akan dimakan oleh buaya?” si kancil berhenti berbicara beberapa saat lamanya, dan sesudah itu berkata lagi, “tapi mengapa kau sekarang datang bersama-sama dengan teman-temanmu sebanyak itu?’

“kau akan kumakan bersama-sama dengan teman-temanku itu,” jawab si buaya.

“aduh celaka,” keluh si kancil itu.

“mengapa?”

“aku tidak mau diperebutkan demikian. Lebih senang aku kalau kau sendiri yang memakanku. Jadi, lebih baik teman-temanmu itu kau suruh pergi saja.”

“tidak; tidak bisa.”

“teman-temanku itu kuajak datang bersama-sama ke sini memang bertujuan untuk memakanmu bersama-sama.”

“mengapa begitu? Barangkali kau kawatir kalau aku akan lepas lagi dengan tipuan seperti dahulu. Begitu dugaanmu, bukan?”

“dugaanmu itu ternyata salah benar. Tidak perlu kau susah-susah mengejarku, aku sudah bersedia menyerahkan diri. Nah sekarang ini bagaimana? Teman-temanmu sudah terlanjur berkumpul. Padahal badaku sekian kecilnya, tentulah tak akan dapat mengenyangkan perutmu dan teman-temanmu nanti pada akhirnya tentu akan berkelahi memperebutkan dagingku. Kalau kau membawa timbangan, tentulah dapat membagi-bagikan dagingku dengan adil, sama beratnya.”

“ya, benar” kata si buaya. “aku pun tidak akan dapat membaginya dengan seadil-adilnya.

“memang membagi itu bukanlah suatu tugas yang ringan,” sambung si kancil. “kalau kurang adil kau membagi, tentulah teman-temanmu akan memerotes, dan kemungkinan besar akan terjadi perkelahian antara kau dengan teman-temanmu karena soal pembagian itu.” Ya, memang katamu itu benar belaka,” kata si buaya.

“lalu bagaimana maksudmu?” tanga si kancil.

“bagaimana kalau kau yang membagi-bagikannya”kata si buaya. “barangkali dengan demikian dapat lebih adil.”

“apakah kau dan teman-temanmu rela kalau aku sendiri yang membagi-bagikannya,” tanga si kancil.

“ya. Kami rela,” jawab si buaya.

“kalau begitu, baiklah” kata si kancil dengan tegas. “tetapi kau semua harus menurut kepada keputusanku. Setujukah?”

“ya, setuju,” seru buaya-buaya itu serempak. “kami menurut perintahmu, asal kau membagi dengan adil.”

“tentu saja kuusahakan seadil-adilnya,” kata si kancil.

“marilah selekas mungkin kita mulai. Berjajarlah kau yang baik dari sini sampai ke tepi sungai sana, agar aku dapat dengan mudah mengetahui jumlahnya semua, dan kemuadian membagi-bagi dengan adil.”

Buaya-buaya itu menurut, lalu berjajar dari dekat batu tempat kancil berdiri itu sampai ke dekat pantai. Mulailah si kancil akan menunaikan tugasnya. Mula-mula ia meloncat ke atas kepala buaya yang terdekat, sambil katanya, “Nah! Kau kebagian kepalaku sebelah kiri.”

Lalu meloncat lagi ke atas buaya yang kedua, sambil berkata, “kau kebagian kepalaku sebelah kanan.”

Dari situ ia meloncat ke atas kepala buaya yang ketiga, sambil berkata! “kau kebagian leherku.”

Begitu selanjutnya, buaya yang keempat ke baian kaki depan sebelah kiri, buaya yang kelima kebagian kaki depan sebelah kanan. Pada akhirnya sampailah si kancil di atas kepala buaya yang terakhir, yang terdekat ke darat. Ia berkata, “Nah, kau yang paling bahagia, mendapat bagian tahiku.” Bekata demikian itu sambil berberak, tahinya menjatuhi ujung moncong buaya itu, lalu cepat-cepat meloncat ke data, dan lari sekencang-kencangnya menjauhi sungai itu.

Dengan demikian si kancil dapat lepas dari bahaya maut itu.

 

 

 

 

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Si kancil dan Buaya"

Post a Comment