Guru Husen Alim
sumber gambar : https://akupintar.id/info-pintar/-/blogs/tugas-dan-peran-guru-dalam-pendidikan
Ada seorang guru mengaji, bernama Husen. Ia sangat alim dan mempunyai banyak murid; ada yang mengaji kitab, ada yang mengaji qur’an. Guru Husen mempunyai seorang anak gadis, seorang anak perempuan yang cantik; yang juga pandai mengaji kitab-kitab qur’an. Jika guru Husen mengajarkan kitab qur’an kepada murid-muridnya mereka cepat dapat mengerti. Ada seorang muridnya sangat bebal, yang tidak juga dapat mengaji, namanya Lo’ Belangtampil. Ia seorang anak yatim piatu yang miskin. Lo’ Belangtampil menaruh hati kepada anak perempuan Guru Husen.
Diceritakan guru Husen membuat rumah, semua murid-muridnya turut bekerja menambah tinggi latai rumah. Tetapi lantai tadi tak dapat baik dan rata, selalu retak-retak saja.
Pada suatu malam guru Husen menyuruh Lo’ Belangtampil mencari Nabi Ilir sampai bertemu, sebab kalau tidak begitu, ia terang tak akan dapat mengaji. Berkatalah Lo’ Belangtampil kepada gurunya dengan hormat, “baik pak, tapi saya tidak tahu di mana saya akan dapat menjumpai beliau.”
Jawab gurunya, “pergi saja engkau sekarang juga anakku”, bawalah ikan teri ini, sisipkan diikat pinggangmu; sewaktu-waktu teri tadi hidup kembali, di tempat itulah kau akan berjuma dengan Nabi Ilir. Keesokan harinya Lo’ Belangtampil berangkat, teri dibungkus dan diselipkan diikat pinggangnya. Ia pergi kadang ke selatan, kadang ke timur, mengembara tak tentu tujuannya asal berjalan saja, siang malam tanpa mengaso, hanya berhenti kalau mengerjakan sembahyang.
Setelah agak lama berjalan berjumpalah ia dengan seorang haji dengan sebuah pohon besar tumbuh di atas sorbannya.
Ia berjalan terus lalu mendapatkan seekor burung kencana; sibuk makan bangkai.
Perjalanan terus dilanjutkan; ia melihat seekor lembu dalam padang rumput yang subur, tapi tak suka makan.
Teruslah ia berjalan, lalu melihat seekor buaya, yang terapung-apung saja tak dapat menyelam.
Sesudah ini ia menjumpai orang terhimpit antara dua pohon.
Lo’ Belangtampil terus berjalan masuk hutan ke luar hutan. Akhirnya sampai pada sebuah pantai laut. Sekonyong-konyong teri yang terselip dalam ikat pinggangnya bergerak dan meloncat dalam laut. Ia berjumpa dengan Nabi Ilir lalu memberi salam. Lo’ Belangtampil lalu bertanya kepada Nabi Ilir, “bapak, bolehkah saya bertanya, apakah bapak itu nabi Ilir. Saya ke mari mencari bapak.” Jawab Nabi Ilir, “Ya Belangtampil aku ini Nabi Ilir.” Lo’ Belangtampil berkata dengan hormatnya;
“waktu dalam perjalanan, saya menjumpai macam-macam kejadian yang aneh-aneh.” Apa yang dijumpai di jalan, semuanya diceritakan kepada Nabil Ilir. Nabi Ilir mewejangnya, “Haji yang dari sorbannya tumbuh pohon kayu: dosanya karena loba. Burung kencana yang suma makan bangkai menggambarkan orang yang suka makan riba. Lembu di pandang rumput yang subur tapi tak suka makan, ialah gambaran dari orang suka mendatangi pesta, meskipun tak diundang. Buaya terapung-apung saja di ari tidak tenggelam, ialah contoh orang yang tak mau sembahyang meskipun banyak air. Orang terjepit antara dua pohon, ialah orang yang berdosa karena orang tak suka memberi zakat fitrah meskipun banyak uang.
Tanya Lo’ Belangtampil berkata, “bapak saya akan bertanya, apa dosa guruku, maka ia tak pernah berhasil membuat lantai rumahnya?”
Nabi Ilir menjawab, “salahnya gurumu ialah, ia tak memberikan gadisnya kepadamu, karena engkau seorang yatim piatu yang miskin. Percayalah engkau nanti dapat kawin dengan anak perempuannya.”
Lo” Belangtampil minta permisi pulang dan tak antara lamanya sampailah ia di rumah gurunya, terus pergi ke pesantren tempat mengaji dan menghafal, ia jadi harum baunya. Setelah bertemu dengan gurunya diceritakanlah semua apa yang dikatakan Nabi Ilir. Lo’ Belangtampil dikawinkan dengan anak perempuan gurunya, lalu menjadi guru pula di situ. (setelah itu lantai rumah gurunya baru dapat berhasil di perbaiki dengan sempurna).

0 Response to "Guru Husen Alim"
Post a Comment