Gulai dengan sasagun
Pada Zaman bahari di sebuah desa ada di antaranya dua orang bercucu. Umur si nenek kurang lebih 70 tahun dan umur si cucu kurang lebih 13 tahun. Pada waktu itu di banjarmasin musim ketam atau menuai padi. Masa dahulu hingga sekarang ini, apabila di banjarmasin musim menuai padi, berdatanganlah orang-orang hari hulu sungai ke banjarmasin untuk turut mengetam/menuai yang disebut orang mengambil kakarun. Maksud kakaran ialah bagi yang turut menuai mendapat beberapa persen dari hasil sawah yang dituainya.
Waktu itu si nenek dengan si cucu ingin juga pergi ke banjarmasin mengambil kakarun. Keesokan harinya mereka sudah bersiap-siap mengumpulkan perkakasnya dan bekal untuk keperluan mereka. Pagi itu mereka sudah menanak nasi untuk dimakannya pagi itu juga, hanya menunggu gulainya saja lagi. Sebelum menggulai sayur mayur dan ikannya sudah tersedia.
Si nenek akan memulai menggulai. Si cucu waktu neneknya menggulai, dia tidak ada di rumah hanya bermain-main saja dengan kawan-kawannya. Sekira gulainya hampir masak, maka neneknya menyendok gulai itu dengan sendoknya, untuk dirasainya apakah sudah sedang atau kurang asin. Setelah dirasanya, ternyata gulai tersebut kurang asin atau disebut dengan istilah banjar hambar. Maka diambilnya oleh si nenek garam yang berada dalam sebuah botol yang terletak di samping dinding untuk dibuatnya ke gulai yang kurang asin tadi. Setelah diamsukkannya garam tadi ke gulainya, lalu dirasainya kembali, ternyata masih kurang asin. Diambilnya lagi garam yang di botol tadi dan dimasukkannya ke gulai, sudah itu dirasainya lagi, tokh masih kurang asin dan rasanya sama dengan semula tadi.
Berturut-turut si nenek membuati garam ke gulai, dilihatnya ke botol hampir seperempat isi botol sudah yang diambilnya, maka heran bin ajaiblah dia, karena gulainya masih kurang asin, tambahan pula dilihatnya gulainya bertambah keruh dan kental, disebut dengan istilah banjar gulai itu likat.
Pikir si nenek, “mungkin ini menjadi alamat bagi kami, entah apakah nantinya terjadi atas diri kami. Kalau melihat gelagatnya, ini rasa kurang baik, sebab garam yang sudah ditelah oleh gulaiku hampir seperempat botol, rasanya tetap hambar atau tidak terasa asin.”
Pikirnya lagi, “boleh jadi juga ii hanya perasaanku saja barangkali. Labih baik kupanggil saja cucuku untuk merasai gulai ini.”
Karena cucunya bermain-main itu agar jauh, si nenenk memanggil agak keras dan berturut-turut. Bagaimakanah panggilan si nenek kepada cucunya yang agak.
“coo .... ooo ... coo!”
Cucunya belum lagi mendengar. Dipanggilnya lagi sekali, “coo...! coo... ooo coco!” nah! Cucunya mendengar pangilan neneknya, lalu sahutnya, “apa nek! Aku di sini.”
Kata neneknya, “coba engkau ke mari dahulu!”
“baiklah nek,” sahut cucunya.
Si cucu pun berlari pulang ke rumah mendapatkan neneknya. Sesampai di rumah, lalu neneknya berkata, ujarnya, “coba engkau rasai gulai ini! Tadi sudah berturut-turut aku pula aku buati garam ke gulai hingga hampir seperempat botol garam dihabiskan, namun rasanya tetap hambar atau tidak terasa asin. Sekarang coba engkau sendiri merasainya. Karena kalau-kalau hanya perasaanku saja yang begitu itu.”
Si cucu pun mengambil sendok. Sebelum si cucu menyendok gulai itu, si cucu agak heran, karena dilihatnya gulai itu kental dan keruhnya luar biasa, hingga timbul pertanyaannya, tanyanya, “nek! Mengapa gulai ini begini rupa dan seumur hidupku aku baru sekali ini pernah melihat gulai seperti ini.”
Jawab si nenek, “begitulah keadaanya maka aku samapi memanggil engkau. Aku pikir,” ujar neneknya, “kita ini barangkali hendak mati.”
Si cucu pun menyendok gulainya, lalu dikecapnya.
Bagaimanakah perasaan si cucu? Perasaan si cucu tidaklah berbeda dengan perasaan si nenek. “kalau begini, lebih baik ak sendiri menggarami gulai ini,” kata si cucu.
“cobalah,” jawab si nenek.
Si cucu pun menuju ke tempat garam yang ada di dekat dinding itu. Di sana ia mencari-cari botol garam, karena maklumlah teampat segala-galanya, seperti garam, tepung, gula dan lain sebagainya, hanya tersimpan di dalam botol saja.
Karena si cucu agak lama mencari botol garam, lalu si nenek menunjukkan ke botol yang telah diambilnya dahulu. Sesudah si cucu mengambilnya, si cucu pun memperhatikan isi botol itu dan diambilnya sedikit. Setelah nampak oleh si cucu isi botol itu, si cucu pun tercengang agak keheranan.
Apakah sisi botol itu? Isi botol itu tidak lain, ialah sasagun.
Si cucu berkata kepada neneknya, katanya, “nek! Sebetulnya nenek tadi salah ambil. Dikira nenek inilah sebenarnya botol garam.”
Si nenek heran, lalu bertanya, “apakah isi botol itu?”
“sasagun!” jawab si cucu, “makanya demikian gulai kita menjadi kental dan keruh.”
Mereka pun sama berpandang-pandangan sambil tertawa terbahak-bahak, sebeb gulanya telah bercampur sasagun.
Si cucu tertawa sekeras-kerasnya sedang si nenek tertawa dengan tidak bergigi.
Sekian.
Catatan :
Sasagun adalah tepung beras yang aron bersama dengan parutan kelapa
ditambah dengan sedikit gula dan garam.

0 Response to "Gulai dengan sasagun"
Post a Comment