google.com, pub-4323562692114859, DIRECT, f08c47fec0942fa0 Si Tanduk Panjang - Cerita Rakyat

Si Tanduk Panjang

 



Pada jaman dahulu, di sebuah kampung, hiduplah dua orang suami isteri dalam suatu rumah tangga yang miskin. Mereka itu mempunyai seorang anak perempuan yang sangat dicintainya. Ada suatu kekecewaan yang sangat menekan hati suami isteri itu, yaitu keinginannya akan mempunyai anak laki-laki telah  lama belum terpenuhi. Siang dan malam selalu mereka berdoa, memohon agar dikaruniai anak laki-laki.

Beberapa tahun kemudian, lahirlah dalam keluarga itu seorang bayi laki-laki. Suami isteri itu seketika bergembiralah menyambut kelahiran bayi laki-lakinya itu. Tetapi setelah mereka tahu bahwa bayi laki-lakinya yang baru lahir itu pada kepalanya tumbuh tanduk seperti halnya pada kerbau atau sapi, maka menjadi sedihlah hati mereka. Alangkah malunya nanti kepada para tetangga dan kenalannya, sebab anaknya aneh, tidak wajar seperti bayi-bayi yang lain. Mereka mencari akal, bagaimana caranya dapat menyingkirkan bayinya yang bertanduk itu ke sungai, agar jangan diketahui oleh para tetangganya.

Lalu disediakannyalah sebuah peti yang cuku besar, untuk menyembunyikan banyinya. Bayi itu lalu dimasukkannya ke dalam peti itu, dengan disertai sebutir telur ayam dan segangang beras. Peti itu lalu ditutup, dan kemudian dihanyutkannya ke sungai.

Anaknya yang perempuan, yaitu kakak si bayi, melihat adiknya dihanyutkan ke sungai itu, ibalah hatinya, ia terus saja berjalan menyusuri tepi sungai, mengikuti peti yang hanyut itu. Tidak sampai hatinya membiarkan adiknya sendiri mati tenggelam di tengah sungai itu. Ke mana saja peti yang berisi adiknya itu hanyut, selalu dia mengikutinya, dengan berjalan menyusuri tepi sungai itu.

Beberapa saat kemudian, anak perempuan itu mendengar suara bayi menangis dari dalam peti itu. Ia menduga, tentulah adiknya itu lapar. Lalu ia menghiburnya dengan berdendang,

“wahai adikku sayang,

Wahai si tanduk panjang,

Jangan kau menangis,

Kalau kau lapar,

Makanlah beras sebutir,

Agar jangan mati,

Karena kelaparan,

Selang beberapa hari kemudian, telur ayam dalam peti itu pun menetaslah. Terdengarlah dari laur suara ciap-ciap anak ayam itu. Mendengar itu, anak perempuan itu pun berdendanglah,

“wahai, adikku sayang,

Wahai si tanduk panjang,

Kalau kau lapar,

Makanlah beras sebutir,

Dan sebutir lagi berikanlah,

Kepada anak ayam itu,

Agar jangan mati,

Karena kelaparan.”

Berulang kali anak perempuan itu menghibur dan menyenang-nyenangkan hati adiknya dengan berdendang demikian itu, sambil tetap menyusuri tepi sungai itu. Keadaannya sendiri tidak diperhatikannya. Perhatian seluruhnya hanya dipusatkannya untuk adiknya, si tanduk panjang itu. Setelah berminggu-minggu lamanya, peti itu dihanyutkan air ke tepi sungai. Dengan cepat anak perempuan itu menghampiri, lalu mengangkatnya ke tempat yang kering di tepi sungai itu, lalu dibukanya tutup peti itu.

Dari dalam peti itu ke luarlah seorang anak laki-laki yang sangat gagah lagi tampan. Setelah anak laki-laki itu keluar, menyusullah seekor ayam jantan yang bagus. Anehnya, baru saja berumur beberapa minggu, anak laki-laki itu telah dapat berjalan dan berbicara. Dan yang lebih mengherankan lagi, tanduk yang dahulu tumbuh panjang di kepala anak laki-laki itu, sekrang telah tanggal, tak ada lagi. Dan sekarang anak laki-laki itu tak ubahnya dengan anak-anak yang lain, tidak lagi bertanduk di kepalanya, bahkan kini nampak tubuhnya begitu teguh dan gagah, serta wajahnya sangat tampan.

Kedua orang anak kakak beradik itu pun lalu berjalan bergandengan tangan menuju ke sebuah desa, dengan membawa ayam jantannya yang kini sudah menjadi besar.

Tiba di depan pintu gerbang desa itu, mereka ditegur oleh salah seorang penghuni desa itu, “hai anak-anak. Akan kemanakah kalian ini?”

“kami akan memasuki desa ini mencari makan,” jawab mereka berdua.

“tidak tahukah kalian tentang adat kebiasaan yang lazin di desa ini? Kalau kalian ingin memasuki desa ini, haruslah kalian mematuhi peraturan yang berlaku di desa ini.”

“ya. Tentu saja kami sanggup mematuhi peraturan yang berlaku di desa ini. Di mana bumi kami pijak, di situlah langit kami junjung,” jawab kedua orang anak itu.

“baiklah kalau begitu,” kata penghuni desa itu. Sementara itu, beberapa orang penghuni desa itu ikut mengerumini pendatang itu, dan makin banyak orang yang mengerumuni kedua orang anak itu.

“kalian harus berani mengadu ayam kalian itu dengan ayam kami,” kata yang lain lagi.

“ya, begitu,” sambung yang lain lagi. “kalau ayam kalian itu menang, kalian boleh memasuki desa ini, dan akan memperoleh harta benda kekayaan yang kami pertaruhkan.”

“baiklah!” jawab kedua orang anak itu.

“tetapi, kalau ayam kalian itu kalah, kalian harus sanggup menjadi budak kami,” kata yang lain pula. “maukah kalian? Kalau tidak berani, lebih baik kalian mengurungkan maksud untuk masuk ke desa ini.”

“baiklah! Jawab anak anak itu, lalu bertanyalah mereka berdua kepada orang-orang desa itu, “apakah yang akan kalian pertaruhkan?”

“semua harta kekayaan yang dimiliki oleh semua penduduk desa ini akan kami serahkan kepada kalian kalau ayam kalian itu menang.”

Sesudah itu, mulailah mereka mengadu ayam jantan. Ayam si tanduk panjang itu menang. Kedua orang anak itu lalu diperkenankan masuk ke desa itu, dijamu makan minum dan mendapat kekayaan yang tidak sedikit jumlahnya.

Setelah memperoleh kekayaan yang besar jumlahnya itu, si tanduk panjang dan kakak perempuannya lalu meneruskan perjalannya, masuk kampung ke luar kampung. Di kampung-kampung yang mereka datangi, mereka senantiasa mengadu ayam jantannya dengan ayam penghuni kampung-kampung yang mereka datangi itu, dan senantiasa pula ayam jantan mereka mendapat kemenangan. Lama-kelamaan harta kekayaan kedua orang anak itu pun makin banyak.

Pada akhirnya sampailah si tanduk panjang dan kakak perempuannya itu di sebuah desa yang ramai. Sampai di depan pintu gerbang desa itu, beristirahatlah mereka. Beberapa orang dari desa itu mendekati mereka, dan bertanya, “siapakah kalian? Dari manakah kalian datang? Siapa orang tua kalian. Dan apakah maksud kalian datang ke desa kami ini?”

Lalu menjawablah kakak si tanduk panjang, “kami ini anak celaka. Dari mana tanah kelahiran kami dan siapakah orang tua kami, tidak tahulah kami.”

“bukan manusiakah kamu ini? Mengapa sampai tidak tahu tanah kelahiran dan orang tuamu?” tanga orang-orang desa itu lagi, dan anak perempuan itu lalu menjawab menjelaskan, “aku dan adikku ini manusia biasa. Hanya, di manakah tanah kelahiran dan siapakah orang tua kami, tidak tahulah kami.”

“mengapa?”

“begini. Pada waktu aku masih kecil, lahirlah adikku laki-laki ini. Pada waktu ia lahir, nampaklah tumbuh tanduk panjang pada kepalanya, itulah sebabnya ia kupanggil si tanduk panjang. Ayah dan ibuku malu mempunyai anak bertanduk, lalu adikku ini dibuangkannya ke sungai. Aku mengikutinya ke mana-mana, hingga pada akhirnya dapat menyelamatkannya. Anak laki-laki inilah adikku si tanduk panjang itu. Tangduknya telah lama tanggal, dan kini tidak bertanduk lagi.

Setelah mendengar uraian cerita anak perempuan itu, ingatlah orang-orang desa itu tentang kejadian yang telah lama lalu. Dahulu di desa itu ada seorang perempuan melahirkan anak laki-laki ajaib tumbuh tanduk pada kepalanya. Orang tua bayi itu bermaksud akan menyembunyikan keajaiban anaknya itu, karena malu. Banyinya dibuangkannya ke sungai. Tetapi keajaiban yang disembunyi-sembunyikan itu bocor juga. Orang-orang desa itu mengetahuinya juga, dan kabar tentang keajaiban itu lekas sekali tersiar.

Kiranya desa itu adalah desa tempat kelahiran si tanduk panjang dan kakak perempuannya. Dan berita tentang kedatangan mereka berdua itu lekas sekali tersiar ke seluruh desa, lebih cepat daripada tersiarnya berita tentang kelahiran bayi bertanduk dahulu. Mereka berdua dahulu pergi dengan kesengsaraan, tetapi kini mereka pulang dengan kekayaan dan kemewahan.

Sebenarnya orang tua kedua orang anak itu masih hidup. Mendengar berita tentang kedatangan anak-anaknya dengan membawa kekayaan yang tidak sedikit itu, sangat bersukacitalah mereka, lalu bergegas-gegas akan menjumpainya. Tetapi, setelah berhadapan muka dengan anak-anaknya itu, kecewalah hatinya, sebab tidak diterima oleh anak-anaknya.

“kami berdua ini tidak berbapa dan beribu lagi,” jawab kakak si tanduk panjang. “sejak kecil kami hidup jauh dari kasih sayang orang tua. Orang tua kami telah membunuh kami ketika kami masih kecil, dan sejak itu kami hidup dengan sangat menderita. Dan sejak itu pula kami tidak berorang tua lagi.”

Berulang-ulang kali ayah dan itu itu menerang-nerangkan dan melunak-lunakkan hatinya dengan kata-kata manis, tetapi tetap tidak berhasil. Anak-anak itu tetap tidak mau mengakui mereka orang tuanya. Sangat sedihlah hati ayah dan ibu itu. Tak lama kemudian mereka itu jatuh sakit karena tak tahan menanggung duka dan penyesalan yang sangat menekan, hingga pada akhirnya meninggallah mereka itu.

Si tanduk panjang dengan kakaknya hidup dengan tentram damai dan kaya raya di desa itu.

 

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Si Tanduk Panjang"

Post a Comment