pak waluh dengan anak-anaknya
sumber gambar : https://www.dreamstime.com/illustration/petani.html
Ada orang bernama pak waluh, baru mempunyai anak dua, seorang laki-laki dan seorang perempuan, isterinya meninggal. Sesudah anaknya berumur empat tahun pak waluh kawin lagi.
Pada suatu hari, pak waluh pesan kepada isterinya, supaya anaknya dipelihara dan dijaga baik-baik, karena ia akan pergi mengerjakan tegalnya di hutan, isterinya menyanggupi. Lalu pergilah pak waluh ke tegalnya dan membawa bekal secukupnya.
Sampai di hutan ia membuat pondok membabat dan merambah bersih-bersih semak-semak dan pohonan, menanam labu, jagung, ketelah, macam-macam kacang, ketimun besar kecil, semangka; di samping itu masih menanam macam-macam sayuran.
Pak waluh lama tinggal dalam hutan, tanpa pulang sebentar kerumah; anaknya di rumah diberi makan atau tidak, hanya terserah ibu tirinya.
Kerap kali anaknya ingin makan, tapi arang ibu tirinya tidak marah-marah kepada mereka. Kalau anaknya laki-laki minta makan, kepalanya disiram dengan air cucian olehnya. Jika anaknya perempuan yang minta makan, punggungnya disiram dengan air. Begitulah sehari-hari ibu tirinya entah ayahnya dirumah atau sedang pergi tidak peduli.
Kebetulan pada suatu hari pak wakluh pulang, bertanyalah ia kepada isterinya, apakah anak-anaknya sudah diberi makan atau belum, dijawabnya sudah, malahan mereka sampai tidak suka makan lagi. Begitulah kata istereinya, pak waluh percaya saja, apalagi ia lama tinggal di hutan.
Diceritakan tentang kedua anak itu, bahwa apabila anak yang laki-laki minta makan kepalanya disiram dengan air cucian, kalau anak yang perempuan minta makan punggungnya disiram sampai kuyup. Lama-lama anak-anak tadi jadi putus asa, mereka bersepakat pergi ke ladang di hutan mencari ayahnya, karena telah 5 hari tidak pulang. Tanpa setahu ibu tirinya, mereka pergi dengan diam-diam mencari ayahnya.
Setelah agak jauh dari rumahnya mereka merasa lapar. Kebetulan mereka melihat pohon wuni, yang baru bermasakan buahnya, lalu mengaso di bawahnya. Berkatalah kakaknya kepada adiknya, “adik, tunggulah aku di sini; aku akan panjat pohon wuni ini. Jawab adiknya, “baik kak!” segera kakaknya memanjat pohon tadi; dipetiknya wuni yang sudah masak-masak, lalu dijatuhkan untuk adiknya, sedangkan dia sendiri makan di atas.
Tida malam mereka tidur di bawah pohon wuni, menunggu wuni, karena hanya itulah yang dapat dimakannya. Setelah mereka tiga hari tiga malam di bawah pohon wuni buahnya makin habis, tinggal yang sukar dijangkau dengan tangan. Supaya dapat memetik bersama-sama, tetapi wuni tinggal yang di tempat-tempat yang sukar dijangkau, merekatidak mengerti apa yang harus diperbuatnya. Oleh karena ituberkatalah kakaknya kepada adiknya, “adik, jika kita dapat jadi burung kita mudah memetik wuni yang sukar-sukar!! Bagaimana kalau begitu adik?” jawab adiknya, “setuju tentu.” Kata kakaknya, “aku akan berdoa dengan sungguh-sungguh, mudah-mudahan aku jadi kekuwo dan engkau jadi kekelek.”
Doa mereka terdengar; anak yang lali-laki jadi kekuwo dan yang perempuan jadi kekelek; selanjutnya mereka tak lagi dapat bercakap-cakap, tetapi mereka dapat berbunyi sebagai berikut, “kelek-kelek kuwo, yang perempuan bakhil, yang laki-laki lurus.”
Hanya itulah yang dapat mereka katakan, siang malam.
Diceritakan, bahwa ayahnya di ladang pada suatu malam mendapat impian, ia bermimpi, semuah buah semangkanya menjadi ketimun; demi ia bangun, berpikirlah ia, “ada apa gerangan dirumah? Baiklah saya pulang segera.”setelah berpikir demikian, ia terus pulang.
Sesampai di pohon wuni tempat anak-anaknya yang telah berubah rupa jadi kekuwo dan kekelek, mereka melihat ayahnya. Keduanya selalu saja memperdengarkan bunyi, “kelek-kelek kuwo yang perempuan bakhil yang laki-laki tulus.” Ayahnya mendengar bunyi burung tadi dan diperhatikan sungguh-sungguh, lama-lama terharu mendengarnya.
Terlihatlah olehnya dua ekor burung berjejeran, tumit-tumitnya mirip tumit anak-anaknya. Burung-burung tadi tak henti-hentinya berbunyi dengan kerasnya. Pak walu lalu melanjutkan perjalanan pulang; sampai di rumah ia segera bertanya kepada isterinya, di mana anak-anaknya. Kata isterinya, mereka sedang pergi bermain-main, sesudah habis makan. Pak waluh terus mencari anak-anaknya, ditanyakan kepada tetangganya, tapi tak ada yang mengetahui. Ia ingat kepada dua ekor burung yang ia jumpai, lalu pikirnya, “dua ekor burung yang kulihat tadi boleh jadi penjelmaan anak-anakku.”
Segera pergilah ia mencari burung-burung yang pernah ia jumpai. Sampai di pohon wui, ia masih dapat menemukannya lalu dipanggil pulang dengan kata-kata, “anak-anakku. Tadi aku tidak mengenal kamu; mari pulan; apa yang kau derita?”
Kedua burung itu menjawab dengan kata-kata manusia, “terimakasih, ayah, sudah nasib kita, dan kini tak dapat kami jadi manusia kembali, karena telah takdir tuhan begini untuk kita dan ayah.”
Kata ayahnya, “apa yang kalian susahkan, apa sebabnya?” jawab burung-burung, “ibu tiriku tak senang kepadaku; kita tak diberi makan, kita disuruh berpuasa, saban hari aku dan adik disiram air cucian kotor. Begitulah kejamnya ibu tiriku terhadap kita berdua,” kata ayahnya, “mari pulang saja; nanti aku akan membalas dendam untukmu.” Jawab anaknya, “tidak, tidak, ayah, kelak saja di akhirat kita bertemu kembali.” Lalu ayahnya pulang, sepanjang jalan menangis jika ingat anak-anaknya.
Ia mencari cabang cangring, memilih yang baik-baik yang banyak durinya. Tidak lama setelah tiba di ruma, ia mengasah pisau, menyuruh isterinya memipis asam dengan garam katanya ia memerlukan untuk menggarami rusa. Setelah tajam pisaunya, isterinya di siksa dengan cabang cangring, lalu dilumuri dengan asam garam. Isterinya menjerit dan bertanya apa dosanya; jawab suaminya, “beginilah sakitnya anak-anakku, yang telah kau perlakukan dengan kejam, di samping itu kau telah menipu aku pula.”
Isterinya rebah, lalu mati.

0 Response to "pak waluh dengan anak-anaknya"
Post a Comment